03 Januari 2008

Retire Permanen & Retire Temporer (1)

Akhir tahun 2007 ini setidaknya ada dua peristiwa yang membuat kesan mendalam dan membuat saya merenung. Tepatnya tanggal 30 Desember, saya terkejut dengan SMS berisi kabar meninggalnya kawan seangkatan di bank tempat saya bekerja. Usianya 38 tahun, tidak ada tanda-tandanya ia akan meninggal dini hari. Sebelumnya ia sempat bekerja lembur di kantor hingga malam. Ia disemayamkan di perumahan bukit modern, bersebelahan dengan perumahan tempat saya tinggal.

Peristiwa kedua, tepatnya tanggal 31 Desember saat saya bekerja lembur di kantor, kawan saya satu unit, mengundurkan diri karena masa kerjanya berakhir. Kami kawan-kawan satu unit, kaget karena tidak menyangka bahwa ia berakhir masa kerjanya. Ia menyalami kami satu persatu, meminta maaf dan kemudian ia memberi kenang-kenangan buku, masing-masing 1 buku dengan tema/ judul yang sesuai dengan karakter, minat atau kondisi masing-masing. Saya mendapat buku “Kunci sukses” karangan Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni, karena ia tahu bahwa saya berkeinginan untuk menjadi entrepreneur.

Hal yang paling berkesan adalah ia memberi kami “surat pengantar” untuk buku yang kami terima berisi nasihat kebaikan. Selama ini, tidak pernah ada kawan di kantor yang mengundurkan diri dengan “cara” yang berkesan seperti ini. Saya merasa terharu dan merasa kehilangan, saat shalat zhuhur dan ashar ia seringkali mengingatkan dan mengajak kami untuk shalat berjamaah di musholla basement. Ia dikenal pecinta damai, tidak suka berseteru, dan sering mengirim email berisi nasihat-nasihat yang berkesan dalam.

Kedua kawan saya itu sama-sama mengundurkan diri, tetapi yang satu mengundurkan diri secara permanent tanpa sempat berpamitan sedangkan yang satunya lagi mengundurkan diri secara temporer, ia sempat berpamitan dan hanya berpindah kerja di tempat lain.

Anehnya, saya sempat berempati beberapa saat, membayangkan bagaimana diri saya saat saya mengundurkan diri dari kantor dan menjadi “Tangan Di Atas”. Ada perasaan kehilangan mendalam, ada perasaan lega dan ada sedikit ketakutan. Dan saya juga membayangkan bagaimana jika saya mengundurkan diri secara permanent, tanpa sempat menjadi “Tangan Di Atas”, ngeri membayangkannya.

Barulah saya sadar, menjadi “Tangan Di Atas” itu bukan sekedar makna duniawi, tetapi juga makna ukhrowi. Selain bisa “memberi” nafkah para pegawai, juga memberi nafkah keluarga dari hasil usaha sendiri. Seberapa banyak yang kita beri, itulah tabungan kita untuk di akhirat, apalagi kalau yang kita beri itu bukan gaji, melainkan sedekah….. Seberapa banyak-kah harta yang sudah saya sedekahkan? ….. Rasanya malu jika dibayangkan dengan begitu banyaknya kenikmatan yang sudah diberikan Allah. Tidak sebanding….

Akhir tahun ini, 2007, mengingatkan saya untuk “ingat” bahwa hidup itu pasti ada akhirnya dan harus dipersiapkan dengan bekal yang sebaik-baiknya.

Saya kutip satu kalimat dari buku yang saya terima itu :

“Dunia adalah arena pertarungan dan hidup adalah pertaruhan. Derajat kemuliaan akan dicapai melalui usaha yang keras. Dan kesuksesan dapat diraih dengan tekad yang kuat.”

Penasaran dengan surat dari kawan saya itu, silahkan simak di tulisan bagian kedua.

0 comments:

Kontak Langsung - Silahkan ketik pesan Anda

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

About This Blog

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP